• Sri Sultan Hamengkubuwono IX

    Al heb ik een uitgesproken Westerse opvoeding gehad, toch ben en blijk ik in de allereeste plaats Javaan. Zo zal de adat, zo deze niet remmend werkt op de ontwikkeling, een voorname plaats blijven innemen in de traditierijke Keraton. (Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat, namun pertama-tama saya tetap adalah orang Jawa. Maka selama tak menghambat kemajuan, adat akan tetap menduduki tempat yang utama dalam Keraton yang kaya akan tradisi ini.)

    Kata-kata tersebut merupakan penggalan pidato BRM Dorojatun ketika dilantik menjadi Raja Keraton Yogyakarta dan kemudian memperoleh gelar Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dalam kalimat ini, terlihat komitmen yang dimiliki oleh Hamengku Buwono IX tentang pendidikan multikultural. Perpaduan dua konsep peradaban, yakni peradaban Barat dan peradaban timur akan mewarnai kebijakan-kebijakan politik yang diambil oleh Hamengku Buwono IX sebagai seorang negarawan.

    Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan beliau yang pernah merasakan pendidikan Timur dan Barat. Hamengku Buwono IX mendapatkan pendidikan budaya Jawa dari keluarganya yang merupakan bagian dari Keraton Yogyakarta. Adapun pendidikan Barat dialami beliau saat mengambil  studi doktor di Rijksuniversiteit, Leiden, pada Fakulteit Indologi.

    Dalam tulisan ini, saya berpendapat bahwa Hamengku Buwono IX memiliki pemikiran yang panjang terkait cara beliau dalam memimpin Keraton Yogyakarta. Perpaduan dua peradaban besar antara Barat dan Timur melandasi semangat multikulturalisme yang menjadi ruh masyarakat Yogyakarta. Bahwa pada hakikatnya, kebudayaan tidak boleh dilepaskan dari demokrasi. Justru dengan mengacu pada kebudayaan (Jawa) itulah, demokrasi bisa diterapkan pada sistem masyarakat kita.

    Demokratisasi Keraton

    Salah satu pemikiran Hamengku Buwono IX tentang demokrasi budaya dilakukan dengan cara mengubah sistem pemerintahan monarki absolut menjadi sistem demokrasi. Hal ini ditandai dengan diterbitkannya surat kawat (telegraf) tertanggal 18 Agustus 1945 yang isinya adalah mendukung dan menyambut gembira Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

    Dukungan politik yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX ini tentunya memiliki dampak yang positif. Secara psikologis, tindakan ini akan mempersuasi raja-raja di Nusantara lainnya untuk turut mendukung kemerdekaan Republik Indonesia. Di lain pihak, dukungan Keraton Yogyakarta terhadap Pemerintah Republik Indonesia diyakini mampu memberikan tekanan bagi Belanda untuk segera keluar dari Indonesia.

    Atas dasar ini, Presiden Soekarno kemudian menerbitkan Piagam Kedudukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alama VIII sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang berkuasa penuh atas kedua wilayah setingkat provinsi yang diberi nama Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai balasan atas diterbitkannya piagam ini, maka Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII mengeluarkan Amanat 5 September 1945 dan Amanat 30 Oktober 1945 yang mempertegas hubungan antara Kasultanan-Pakualaman-Republik Indonesia sebagai Daerah Istimewa dengan segala konsekuensi logisnya.

    Demokratisasi Melalui Pendidikan Multikultural :

    Sri Sultan Hamengku Buwono IX dilantik menjadi raja Kasultanan Yogyakarta di usia yang terbilang sangat muda, yaitu 28 tahun. Pada masa itu, tugas dan tantangan seorang Raja sangat berat karena dihadapkan pada berbagai pergolakan politik yang terjadi di Yogyakarta dan Indonesia. Beliau menyadari bahwa harus ada perpaduan antara kemajuan peradaban Barat dengan kebijaksanaan peradaban Timur. Keduanya harus dipertemukan untuk mencari formula terbaik, tanpa seseorang harus kehilangan jati dirinya.

    Salah satu contoh mengenai demokrasi budaya sebagai pendidikan multikultural diperlihatkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam Tari Golek Menak dan epos Wong Agung Jayengrana.

    Dua penari menampilkan tari Golek Menak Putri, di Bangsal Srimanganti, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta,

    Tari Golek Menak merupakan sebuah tarian perpaduan budaya antara etnis Jawa-Minang-Sunda yang ditampilkan dengan cerita Wong Agung Jayengrana yang mewakili unsur Persia-Cina. Menak berarti bangsawan. Tapi wayang golek Menak lebih merupakan kisah bernafaskan Islam dari Arab. Karenanya wayang ini juga dikenal dengan nama wayang Arab. Tokoh wayang golek Menak mengenakan kostum bordiran berlengan panjang. Rajanya mengenakan kuluk (kopiah raja).

    Adapun cerita Wong Agung Jayengrana adalah kisah saduran dari epos Persia yang berjudul Qissai Emir Hamzah. Kisah ini menceritakan petualangan Amir Ambyah (Emir Hamzah), yaitu paman Nabi Muhammad, yang berjuang menaklukkan kerajaan-kerajaan untuk masuk ke dalam kekuasaan Islam. Dalam kisah ini, Amir Ambyah didampingi oleh Umar Maya (Umar bin Umayah).

    Fragmen Golek Menak dimainkan penari dari Yayasan Siswa Among Beksa di Ndalem Kaneman, Kadipaten Kulon, Kraton, Yogyakarta.

    Dalam menciptakan tarian ini, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dibantu oleh beberapa pakar tari seperti K.R.T. Purbaningrat, K.R.T. Brongtodiningrat, Pangeran Suryobrongto, K.R.T. Madukusumo, K.R.T. Wiradipraja, K.R.T.Mertodipuro, RW Hendramardawa, RB Kuswaraga dan RW Larassumbaga. Selain itu, beliau juga membentuk sebuah tim penyempurna tari Golek Menak gaya Yogyakarta yang terdiri dari enam lembaga, yaitu : Siswo Among Beksa, Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja, Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), Mardawa Budaya, Paguyuban Surya Kencana dan Institut Seni Indonesia (ISI). Sayangnya, sebelum Sultan menyaksikan penyempurnaan Tari Golek Menak ini, beliau mangkat pada tahun 1989 di Amerika Serikat.

    Demokrasi Budaya Sebagai Konsep Politik :

    Menurut Romo Magnis dalam Etika Jawa,

    Kebudayaan Jawa memiliki kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombang – gelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir itu mempertahankan keasliannya.

    Romo Magnis juga berpendapat bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam pencernaan masukan – masukan kultural dari luar. Hindusme dan Budhisme dirangkul, tetapi akhirnya ”dijawakan”. Demikian halnya dengan pengaruh dari Islam yang kemudian dicerna dan disesuaikan dengan kebudayaan Jawa, sehingga membuat Islam di Jawa memiliki identitas sendiri yang berbeda dengan Islam di Timur Tengah.

    Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam masa kepemimpinannya mampu membetuk Yogyakarta meng-Indonesia-kan Indonesia, Yogyakarta sebagai miniatur Indonesia telah menjadi almamater yang mampu memberikan edukasi bagi para pelajar dan mahasiswa untuk memahami betapa pentingnya memahami Indonesia sebagai satu kesatuan identitas dan entitas yang berdiri atas dasar pluralisme dan multikulturalisme.

    Dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, kita belajar bahwa sebagai manusia kita tidak boleh melupakan siapa jati diri kita sesungguhnya. Bahwa pemahaman atas diri yang lebih baik akan membawa kita untuk lebih siap menghadapi masukan dan tekanan dari dunia luar. Bahwa identitas diri yang kuat justru akan membuat diri kita berbeda dan tidak tergoyahkan. Itulah kekuatan budaya, kekuatan memimpin ala Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

    Daftar Pustaka :

    1. Banis Isma’oen & Drs. Martono, Peranan Koleksi Wayang Dalam Kehidupan Masyarakat, Depdikbud, Dirjen Kebudayaan, Proyek Permuseuman DIY, 1989 – 1990.

    2. Franz Magnis Suseno, Etika Jawa, Gramedia, Jakarta, 2001

    3. Laporan Penyusunan Kajian Tata Nilai Budaya Daerah Yogyakarta, Dinas Kebudayaan, DIY, 2007

    4. Muhammad Roem dkk, dalam Tahta Untuk Rakyat, PT Gramedia, Jakarta, 1982.


  • Ceritanya dimulai tahun 2005 ketika Jokowi -panggilan akrab Joko Widodo- terpilih sebagai Walikota Solo. Dari sebuah jajak pendapat, diketahui bahwa warga merasa tidak nyaman dengan banyaknya PKL yang tersebar di Solo. Yang menjadi sorotan adalah PKL yang menempati Monumen 45 Banjarsari. Ada seribuan PKL mencari nafkah dengan berjualan di kota ini. Yang dijual barang bekas, sehingga namanya menjadi pasar klithikan. Saat malam menjelang, lokasi ini menjadi lokasi prostitusi dan meresahkan warga sekitar.

    Maka mau tidak mau diambillah keputusan: PKL Banjarsari harus direnovasi. Tapi bagaimana caranya? Kalau digusur sepertinya tidak mungkin. Berdasarkan sejarah, Balaikota Surakarta pernah dibakar massa dua kali (1998 dan 1999) gara-gara komunikasi yang tidak baik antara pemimpin dan warganya. Lalu muncullah ide untuk bertemu dan mengadakan jamuan makan dengan para pedagang tersebut. Idenya sebetulnya berasal dari pengalaman Jokowi sebagai pengusaha mebel: jamuan makan yang baik biasanya berakhir dengan deal bisnis yang juga baik. Jamuan makan pun dilaksanakan, semua paguyuban PKL Banjarsari diundang menghadiri acara tersebut.

    Mengetahui akan dipindahkan, pedagang-pedagang tersebut menyiapkan diri. Mereka mengajak pula LSM yang peduli dengan nasib pedagang ke acara tersebut. Spanduk-spanduk dibawa ke Loji Gandrung, rumah dinas Walikota yang menjadi venue pelaksanaan acara. Namun ternyata pedagang-pedagang tersebut kecele. Tidak ada omongan apapun mengenai relokasi PKL. Yang ada hanyalah jamuan makan dan ngobrol-ngobrol ringan. Kalau meminjam istilah Jokowi, SMP – Sudah Makan, Pulang.

    Jamuan makan kedua dilaksanakan kembali. Agendanya sama, makan-makan. Pedagang-pedagang bingung. Kalau nggak ada omongan penting, ngapain ada undangan? Tapi undangan jamuan terus dilakukan. Total jumlah jamuan dengan pedagang tersebut: 54 kali jamuan makan! Tepat pada jamuan ke-54 (bulan ketujuh seingat saya), barulah Jokowi menyampaikan maksudnya ke pedagang-pedagang tersebut.

    Beruntunglah suasana sudah mencair. Pedagang secara terbuka menyampaikan permasalahannya. Mereka takut kehilangan pelanggan. Sebagai solusi dari relokasi ini, Jokowi menawarkan untuk membantu sosialisasi pemindahan PKL melalui media cetak dan televisi lokal. Jokowi juga berjanji untuk memasang spanduk-spanduk di titik-titik penting di pusat Kota Solo. Jokowi juga meminta Dinas Perhubungan untuk menambah satu trayek angkutan baru menuju lokasi pemindahan PKL yang baru.

    Pedagang setuju dengan niatan Pemkot Surakarta tersebut. Namun mereka memohon keringanan lain: kios digratiskan. Permohonan ini adalah salah satu permintaan yang paling sulit untuk dipenuhi. Namun Jokowi berhasil meyakinkan DPRD untuk menggolkan deal ini. Syaratnya satu: pedagang harus membayar retribusi harian sebesar Rp2.600,oo/hari. Dalam delapan tahun, modal 8 milyar yang digelontorkan oleh Pemkot akan kembali.

    Pedagang-pedagang tersebut kemudian dipindahkan dengan acara boyongan, diarak sepanjang jalan dan disaksikan masyarakat. Semua pedagang menggunakan baju adat, yang mengarak pun prajurit keraton. Persis seperti raja sehari, Tercatat, 989 PKL terlibat dalam upacara boyongan tersebut.

    Orang bilang, saya berhasil memindahkan PKL karena mereka diajak makan.. Padahal tidak seperti itu. Saya ini hanya berusaha nguwongke wong -memanusiakan manusia.

    Dulu PKL sulit diajak pindah lokasi. Sekarang kondisinya berbalik, justru PKL-lah yang mengantre ke Pemkot Surakarta, meminta untuk diatur. :)

    Monumen Banjarsari sebelum relokasi
    Monumen Banjarsari pasca relokasi
    Boyongan PKL

    Kirab boyongan PKL

    *****

    Hal lain yang bisa kita pelajari dari Solo adalah revitalisasi pasar tradisional. Dibandingkan pariwisata, sektor perdagangan dan jasa sebetulnya yang paling banyak memberikan pemasukan bagi Kota Solo. Hampir 30 persen pemasukan Kota Solo berasal dari sektor ini. Namun tidak ada tata kelola yang jelas. Selama 40 tahun, tidak ada penambahan pasar baru di kota ini. Orang juga semakin malas berbelanja ke pasar tradisional. Tempat yang becek, kumuh, dan tidak nyaman membuat orang beralih berbelanja ke mal.

    Maka pasar tradisional pun dibenahi, Secara fisik bangunan dipercantik. Disediakan pula undian berhadiah mobil seupaya orang mau berbelanja di pasar tradisional. Maka selama tiga tahun, pendapatan sektor ini naik pesat. Dari 7 milyar pada 2007, naik menjadi 12 milyar pada 2008 dan 19 milyar pada tahun 2010. Luar biasa kan? :)

    Lebih baik menghidupi seribu rakyat biasa di pasar, daripada satu pengusaha mal..

    Gambar dibawah ini bisa menjadi contoh bagaimana revitalisasi pasar tradisional di Solo:

    Pasar Kembang
    Pasar Sidodadi
    Pasar Triwindu

    Dari sini kita belajar: sejatinya kalau kita mau serius, menata kota itu bisa dilakukan. Yang penting ada niatan baik, komunikasi yang efektif, serta pengawasan di lapangan. Mari kita dukung.

  • Peserta USIPP di Candi Borobudur

    Bulan Juni 2011, saya menjadi panitia untuk acara US-Indonesia Partnership on Religious Plurality, Democracy, and Multiculturalism bersama Heru Prama Yuda, Indra Kurniawan, Nendra Primonik, Rizki Fauzia, dan Sekar Sari.

    Acara ini adalah kerjasama tiga universitas : Universitas Gadjah Mada, University of Michigan, dan Le High University. Tujuan dari kegiatan ini adalah menciptakan hubungan people to people yang baik antara Indonesia dan Amerika Serikat, utamanya dalam hal pluralisme beragama, demokrasi, dan multikulturalisme mengingat kedua negara memiliki banyak kesamaan dalam hal-hal tersebut. Keduanya adalah negara yang majemuk dan dianggap sebagai negara yang berhasil melaksanakan prosedur demokrasi di wilayahnya.

    Perwakilan dari UGM adalah Agitha Binar, Annisia Baehaki, Zhafira Sabrina, dan Fikar El Hazmi. Adapun perwakilan dari Michigan adalah Anne Marie Kerchberger dan Carrie Burgess, sedangkan dari Le High adalah Fulvia Vargass dan Ellen Myers. So, meskipun kami sebagai panitia nggak belum kebagian berangkat ke Amerika, yaaaa seenggaknya dapet ilmunya dulu lah ya. :D

    Salah satu sesi utama dalam kegiatan ini adalah Lecturing, dimana teman-teman ini akan mengikuti sesi diskusi bersama pembicara-pembicara ahli di bidang pluralisme beragama, demokrasi, dan multikulturalisme seperti Zainal Abidin Bagir, Najib Azca, Titik Firawati, dan Siti Musdah Mulia. Selain itu, diselenggarakan juga Joint Session dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan US Embassy di Jakarta.

    Najib Azca dan presentasinya tentang Deradikalisasi Gerakan Islam di Indonesia

    Selain sesi lecturing, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk field trip ke Interfidei, Masjid Syuhada, Masjid Perak Kotagede, Gereja Ganjuran, Impulse Kanisius, Seminari St. Paulus, dan Kampung Halaman. Selain itu, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk merasakan kehidupan pesantren dengan menginap selama sehari semalam di Pondok Pesantren Pabelan, Magelang. Ada juga kunjungan ke Kepatihan, dimana para peserta akan dipertemukan dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

    Peserta USIPP bersama Sri Sultan HB IX

    Selain acara-acara utama tersebut, diberikan pengenalan budaya Yogyakarta dengan pelatihan membatik di Ndalem Pertiwi dan pelatihan tari Jawa dengan teman-teman UKM Swagayugama. Acara penutupan dilakukan di pelataran Candi Prambanan dan diakhiri dengan menyaksikan bersama pertunjukan Ramayana Ballet.

    Latihan Tari bersama UKM Swagayugama
    Fulvia and her stamp batik

    Selamat dan sukses Binar, Annisia, Fira, dan Fikar! Semoga kunjungan ke US-nya bermanfaat! :D

  • ASEAN Youth Cultural Forum 2011

    Bulan Mei 2011, saya dan Sekar Sari diminta menjadi MC untuk ASEAN Youth Cultural Forum 2011 (AYCF). Penyelenggaranya adalah ASEAN University Network (AUN), dan UGM bertindak selaku tuan rumah.

    Acara ini merupakan workshop pelatihan dan pertukaran budaya yang diikuti oleh universitas-universitas anggota AUN, seperti UGM dan UI dari Indonesia; National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU) dari Singapura; Burapha University dan Chulalongkorn University dari Thailand; De Lasalle University dari Filipina; National University of Laos dari Laos; Vietnam National University of Ho Chi Minh City dan Vietnam National University of Hanoi dari Vietnam; Universiti Kebangsaan Malaysia, Universiti Sains Malaysia, Universiti Malaya, dan Universiti Putra Malaya dari Malaysia, serta University of Brunei Darussalam dari Brunei.

    Di akhir acara, mereka akan dipasangkan dan diharuskan berkolaborasi dalam menciptakan sebuah penampilan seni baru. Sebagai contoh, UGM dipasangkan dengan NTU dan menampilkan Rame-Rame dan Singapore Town sebagai kolaborasi seni mereka.

    Selain berpasangan, mereka juga menampilkan suatu kolaborasi seni bersama yang berjudul ASEAN Rainbow. ASEAN Rainbow sendiri mengambil cerita dari fragmen Rama Tambak dari lakon Ramayana. Ini adalah kisah perjuangan Rama yang pergi menuju Negeri Alengka demi menyelamatkan Dewi SInta. Untuk mencapai Kerajaan Alengka, Rama harus membuat tambak, semacam bendungan yang menghubungkan daratan ke Kerajaan Alengka. Pembuatan tambak itu berhasil dilakukan berkat bantuan pasukan kera yang berjumlah ribuan. Mahasiswa-mahasiswa ini kemudian membagi diri ke dalam tiga kelompok: kelompok tari, kelompok gamelan, dan kelompok vokal dalam mementaskan ASEAN Rainbow ini.

    Hanya dalam waktu empat hari, mereka mampu membuat penampilan yang memukau. Mungkin karena mereka semua performer sih ya. :D

    Bersama Prayoga Permana dan Sekar Sari :D
    (kiri-kanan) : Heru P. Yuda, Sekar Sari, Prayoga Permana, Rangga Dachlan, Timur Girindra, Dini N. Latifah, Viky Laksono Aji, saya, dan Indra Kurniawan

    Anyway, selamat kepada teman-teman panitia AYCF 2011! Seru!

  • Apakah teman-teman pernah membayangkan sebuah program pertukaran pemuda dengan 1 kapal pesiar, 11 negara, 350 peserta, dan ribuan cerita yang tidak kunjung selelsai diceritakan?

    Alhamdulillah, pada tahun 2010 saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti SSEAYP (Ship for South East Asian Youth Program) yang diselenggarakan oleh Cabinet Office of Japan dan Pemerintah sepuluh negara ASEAN. Program ini adalah program pelatihan kepemimpinan dan pertukaran budaya yang diikuti oleh sebelas negara (Jepang dan negara-negara anggota ASEAN) dan 350 peserta berusia 20-30 tahun. Alumninya sudah lebih dari sepuluh ribu orang. Dari Indonesia, di antaranya adalah Azyumardi Azra (mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah dan Cendekiawan Muslim), Barnabas Suebu (Gubernur Papua), dan Andrie Djarot (Presenter Trans 7).

    Dalam program ini, peserta akan berkumpul di Jepang untuk kemudian mengelilingi negara-negara Asia Tenggara dalam waktu 53 hari menggunakan kapal Fuji Maru. Kapalnya terbagi menjadi delapan lantai, dan memiliki banyak fasilitas pendukung seperti kolam renang, movie theatre, hall, karaoke, bar, dan masih banyak lagi. Ini foto kapalnya :

    Kontingen Indonesia sendiri berjumlah 27 orang yang mewakili provinsi maupun organisasi kepemudaan di Indonesia.Ini foto kontingen Indonesia. Saya keempat dari kiri :D :

    Lalu, apa saja kegiatannya? Setidaknya ini adalah beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta.

    1. Exhibition

    Kontingen Indonesia berfoto bersama Duta Besar Indonesia untuk Jepang HE Muhammad Luthfi

    Setiap negara akan diminta untuk membuka stand Exhibition yang memperkenalkan profil negaranya. Kegiatan ini dilaksanakan sebelum kapal berlayar dan mengambil tempat di National Youth Center Tokyo. Acara ini biasanya juga dihadiri oleh Princess Kiko -yang juga alumni SSEAYP- dan Duta Besar negara-negara ASEAN untuk Jepang. Saya berkesempatan menjadi Koordinator Exhibition kontingen Indonesia.

    2. National Presentation

    Kontingen Indonesia berfoto setelah National Performance

    Setiap negara akan diberikan kesempatan untuk menampilkan pertunjukan budaya selama 75 menit. Kontingen Indonesia menampilkan kombinasi tari, musik, dan drama dengan tema Indonesia: Ultimate in Diversity. Pada kesempatan ini, saya menampilkan Tari Jaranan Sintren (Jawa Tengah-Yogyakarta) dan Tari Mapag (Lampung).

    Chatarina Purnamaningwulan, perwakilan Yogyakarta

    3. Discussion

    Terdapat delapan kelompok diskusi dengan delapan tema yang berbeda, yaitu Corporate Social Contributions, Cross-Cultural Understanding Promotion, Environment, Food Culture, Health Education (Measures against HIV/AIDS), International Relations, School Education, dan Youth Development. Saya terpilih menjadi Discussion Group Steering Committee untuk tema Health Education.

    4. Club Activities

    Kegiatan ini adalah workshop pengenalan budaya ke teman-teman dari negara lain. Kontingen Indonesia mengajarkan Javanese Spa (bahasa jawa-nya: luluran :P), Tari Indang Sumatera Barat, dan membuat kerajinan tangan khas Indonesia. Di akhir program, kegiatan ini akan ditampilkan oleh peserta dari negara lain sebagai bukti bahwa mereka telah belajar dari Club Activities ini.

    5. Courtesy Call

    Kegiatan ini merupakan kunjungan kenegaraan dimana peserta akan disambut oleh pejabat tinggi tempat kapal berlabuh. Pada kesempatan yang lalu, kami disambut oleh Menteri Sosial dan Kesejahteraan Jepang, Menteri Olahraga dan Pemuda Malaysia, Menteri Sosial dan Kesejahteraan Thailand, Ketua DPR RI, ASEAN Secretariat, dan masih banyak lagi.

    6. Homestay

    Setiap peserta akan tinggal dengan keluarga angkat selama 3-4 hari. Meskipun hanya beberapa hari, namun terasa sekali ikatan kekeluargaan yang dijalin. Hampir bisa dipastikan pada saat send-off ceremony, banyak keluarga atau peserta yang menangis karena terharu.

    Secara umum, itu adalah kegiatan-kegiatan utama yang dilaksanakan selama program. Tentu masih ada banyak lagi kegiatan yang belum diceritakan. Namun pasti butuh berhari-hari untuk menceritakan itu semua. Meskipun hanya berlangsung selama 53 hari, namun program inilah yang kemudian mengubah banyak orang. Termasuk saya di dalamnya. :)

Kontes Blog UGM

 
WP_Modern_Notepad

Archives

October 2014
M T W T F S S
« May    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031